Kisah-Kisah Keajaiban Pengorbanan Kesehatan Demi Ibadah Haji

Kisah-Kisah Keajaiban Pengorbanan Kesehatan Demi Ibadah Haji

Ternyata Ibadah haji memliki kekuatan dan ruhiyah yang bisa mengalahkan segalanya. Kelezatan bermunajat dan kenikmatan berdoa kepada Allah bisa melupakan segala kegundahan dan penat dari aktifitas dunia yang fana. Begitu juga dengan penyakit dan rasa sakit di badan, bisa hilang dan tidak terasa sama sekali dengan ibadah kepada Allah Ta’ala.
Begitu juga selama ibadah haji dan umrah, betapa banyak kisah-kisah nyata dan kita bisa jumpai di setiap orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Insya Allah dan pasti mereka ada cerita nyata yang mereka lihat langsung bahkan mereka alami, mengenai keajaiban terkait dengan kesehatan dan penyakit selama ibadah haji.

Berikut beberapa kisah tersebut:
1. Kisah nyata, ketika seorang yang akan menunaikan haji, berangkat dalam keadaan sakit, tetapi ia tetap memaksakan dirinya, di pesawat tiga penumpang terpaksa merelakan kursinya agar si sakit bisa berbaring karena tidak kuat duduk, maka tiga penumpang tersebut duduk di bawah. Sepertinya penyakitnya berat. Akan tetapi apa yang terjadi ketika sampai di kota Mekkah. Ia mulai terlihat sehat dan yang uniknya ketika sampai dan melihat Ka’bah, ia sepertinya tidak pernah sakit dan langsung tawaf serta sa’i (berjalan dan berlari-lari kecil).

2. Kisah yang kami alami sendiri yaitu di kafilah Haji kami ketika itu ada seorang kakek yang sudah sangat sepuh, badannya sudah bongkok dan kadang sering ling-lung. Kita mengambil kesimpulan kalau kakek ini harus benar-benar dijaga kesehatannya dan jangan sampai sendiri dan dilepas karena bisa hilang. Tetapi ternyata selama ibadah haji, kakek ini termasuk yang paling sehat, tidak pernah sakit berat kecuali hanya pilek ringan (semua juga pasti kena pilek). Termasuk yang paling semangat ketika melakukan manasik, yang lebih muda dari dia ada yang pingsan, ada yang kelelahan bahkan kakek ini kuat naik gunung Jabal Rahmah sampai puncaj dengan cepat. Kami berkesimpulan bahwa kakek ini sangat ikhlas dan tidak “macam-macam”, benar-benar niatnya untuk ibadah dan dimudahkan oleh Allah.

3. Kisah yang kami tangani di Padang Arafah, seorang nenek yang sudah sangat berumur mengalami demam tinggi dan dehidrasi. Sebelumnya ia memang sering batuk yang tidak sembuh-sembuh. Hanya berbaring saja dan lemah. Nenek tersebut sudah sangat sepuh. Kami melakukan pemeriksaan fisik dan saya menyimpulkan bahwa nenek ini harus segera dibawa ke rumah sakit, butuh infus karena tidak bisa makan dan minum juga. Jika tidak, ia tidak bisa melanjutkan perjalanan ibadah haji ke muzdalifah. Akan tetapi nenek tersebut tetap ingin melanjutkan ibadah haji. Kami hanya memberikan obat penurun panas dan menyarankan agar minum sari kurma secara perlahan sedikit demi sedikit tapi sering. Ketika sore menjelang akan berangkat ke muzdalifah, ternyata nenek tersebut sudah cukup fit dan bisa berjalan lagi bahkan melanjutkan aktifitas ibadah haji hingga selesai.

4. Di kafilah haji kami juga ada seorang tua yang sudah terkena stroke, sehingga selama haji harus dibawa menggunakan kursi roda dan harus memakai selang kateter untuk kencing. Selain itu, juga sudah agak tidak nyambung ketika berbicara. Ia diurus oleh anaknya yang sangat berbakti kepada ayahnya. Anaknya mengaku bahwa, selama haji ayahnya bisa lebih tenang tidak sebagaimana di rumah. Sehingga proses ibadah haji lebih mudah dilaksanakan
Cerita nyata seperti ini sudah banyak, mulai dari yang tadinya kakinya asam urat kambuh atau seorang nenek tua jompo yang jalan saja harus dipapah. Ternyata ketika akan melihat dan sudah melihat Ka’bah mereka kuat melakukan tawaf dan sa’i dengan total jarak berkilo-kilo dengan berdesak-desakan.

Keajaiban ini karena memang hati kaum muslimin akan selalu cenderung kepada ka’bah. Ini adalah doa yang dipanjatkan oleh nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau berdoa,
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan,
“Allah mewajibkan haji ke baitullah di mana Allah menempatkan anak keturunan nabi Ibrahim dan Allah menjadikannya suatu rahasia mengagumkan, memikat di hati. Yaitu orang berhaji (ke ka’bah) dan tidak ditunaikan terus menerus. Bahkan setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke Ka’bah maka semakn bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya. “[1]

Dalam kitab At-tafsir Al-Muyassar,
“(Nabi Ibrahim berkata) Wahai Rabb sesungguhnya aku melakukan ini karena perintah-Mu, agar mereka menunaikan shalat sesuai dengan tuntunan-M. Jadikan hati sebagian mahkluk-Mu agar cenderung kepada ka’bah/Mekkah dan mencintainya.”[2]

Demikianlah, Ka’bah dijadikan oleh Allah menjadi tumpuan hati kaum muslimin. Hati manusia cenderung ke ka’bah dan jika sudah ke sana, maka hatinya selalu akan bertekad. Saya akan kembali lagi secepat mungkin ke Ka’bah.
Fairuz Abadi rahimahullah membawakan tafsir Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu,
“Maka jadikanlah hati sebagian manusia-,yaitu hati sebagian manusia, -cenderung kepada mereka- yaitu rindu dan menginginkan (pergi ke ka’bah/Mekkah) setiap tahun”[3]

Baca juga : Ternyata begini Manfaat Wudhu Bagi Kesehatan

Kisah yang menyemangati Anda.
Kami menceritakan kisah-kisah nyata ini agar bisa menyemangati para jamaah haji yang akan berangkat. Mungkin ada yang mencemaskan kesehatannya. Khawatir nanti kalau-kalau penyakitnya kumat ketika ibadah haji, misalnya asam urat kambuh, penyakit maag kambuh. Maka hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan, tetap optimis dan berdoa kepada Allah agar memberikan kemudahan ketika melakukan ibadah haji. Tetap berdoa agar penyakit tidak kambuh atau bisa menghalangi ibadah haji.
Semoga kaum muslimin baik yang sehat atau yang sedang diuji dengan penyakit bisa dimudahkan untuk pergi menunaikan ibadah haji dan bisa melaksanakan manasik dan umrah dengan mudah dan tanpa halangan. Semoga daapat kembali ke tanah air dengan pahala haji dan umrah yang mabrur. Amin.
Semoga Allah memudahkan setiap muslim untuk mengunjungi rumah Allah.

Penyusun: Raehanul Bahraen

WOW SISWA INDONESIA RAIH MEDALI EMAS OLIMPIADE FISIKA, MENYAINGI 90 NEGARA

WOW SISWA INDONESIA RAIH MEDALI EMAS OLIMPIADE FISIKA, MENYAINGI 90 NEGARA

Medali Emas – Berita membanggakan datang dari tim siswa SMA Indonesia. Mereka sukses meraih medali emas olimpiade dalam acara tahunan Olimpiade Fisika Internasional (International Physics Olympiad/IPhO) ke 49 telah di Lisbon, Portugal pada 21-29 Juli 2018. Acara ini diikuti oleh 90 negara dengan jumlah delegasi lebih dari 670 orang.

Setelah peserta mengikuti tahapan tes Fisika Eksperimen dan Fisika Teori dilanjutkan dengan tahapan koreksi oleh tim juri dan moderasi nilai oleh para Pembina, akhirnya pada hari Sabtu, 28 Juli 2018 acara IPhO ke 49 ditutup sekaligus pembagian medali emas.

1. Dua tahapan lomba.

Tahun ini Lisbon, Portugal mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan event tahunan IPhO. Kompetisi Fisika internasional untuk siswa SMA tahun ini adalah olimpiade Fisika tingkat dunia ke 49. Mereka memiliki target untuk bisa mendapatkan Medali emas.

Pada umumnya setiap negara mengirimkan pesertanya sebanyak 5 siswa. Ada beberapa negara karena beberapa alasan hanya mengirimkan pesertanya beberapa saja, seperti Kuba, Ekuador, Montenegro dan Puerto Rico yang masing-masing hanya mengirimkan 1 siswa saja. Peserta IPhO seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Spanyol, German, Rusia mengirimkan masing-masing 5 siswa.

2. Lima jam tes Masing-masing tes berlangsung selama 5 jam.

Tidak sedikit siswa gagal seleksi soal Fisika Eksperimen dengan jumlah soal sangat banyak mencapai 25 halaman. Soal tes IPhO tahun ini memiliki topik yang cukup merata. Setelah melewati tahapan koreksi dan moderasi oleh tim juri bersama para Pembina dari masing-masing Negara peserta, ditetapkanlah para peserta yang berhak mendapatkan medali emas.

Sesuai statuta IPhO maka ada 8% peserta terbaik mendapatkan medali emas, 17% peserta dibawahnya memperoleh perak, 25% peserta berikutnya memperoleh perunggu dan 17% terbaik berikutnya memperoleh Honorable Mention (HM).

3. Meraih medali emas.

Dari 5 peserta Indonesia, 1 siswa berhasil memperoleh medali emas, 1 perak dan 3 sisanya meraih medali perunggu. Berikut data perolehan Medali Emas dan medali lainnya serta asal sekolah siswa: Medali emas diraih Johanes dari SMAK Frateran Surabaya, Jawa Timur Medali perak diraih Jason Jovi Brata dari SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta Medali perunggu diraih Ahmad Aufar Thoriq dari SMA Semesta BBS Semarang, Jawa Tengah, Bryant Juspi dari SMA Darma Yudha Pekanbaru, Riau dan Raditya Adhidarma Nugraha dari SMAN 1 Yogyakarta Selama mengikuti olimpiade fisika, tim Indonesia kali ini dipimpin oleh Syamsu Rosid dari Universitas Indonesia dan didampingi Budhy Kurniawan (UI) dan Eko Warisdiono ( Kemendikbud).

Rombongan tim Olimpiade Kimia Indonesia telah tiba di tanah air Rabu, 30 Juli 2018 dan disambut oleh Direktur Pembinaan SMA Purwadi Sutanto, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Ari Santoso, Kasubdit Peserta Didik Suharlan dan Kasi Bakat dan Prestasi Asep Sukmayadi. Mereka bangga karena sukses meraih Medali Emas

Baca juga : Mengharukan, Wiratni Dosen UGM Masuk ke The 39 Powerfull Female Engineers

Sumber : Kompas

Perbuatan Kebaikan Akan Dibalas Dengan Kebaikan

Perbuatan Kebaikan Akan Dibalas Dengan Kebaikan

Balasan Kebaikan – Pada suatu hari ada seorang pemabuk yang mengundang sekelompok sahabatnya. Mereka pun duduk, kemudian si pemabuk memanggil budaknya, lalu ia menyerahkan empat dirham kepada pembantunya dan menyuruhnya agar membeli buah-buahan untuk teman-temannya tersebut. Di tengah-tengah perjalanan, si pembantu melewati seseorang yang zuhud, yaitu Manshur bin Ammar.

Beliau berkata, “Barangsiapa memberikan empat dirham kepadanya. Selanjutnya Manshur bin Ammar bertanya, “Doa apa yang Anda inginkan?”

Lalu ia menjawab, “Pertama, saya mempunyai majikan yang bengis. Saya ingin dapat terlepas darinya.
Kedua, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan empat dirham untukku.
Ketiga, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat majikan saya.
Keempat, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku untuk majikanku, untukmu, dan orang-orang yang hadir di sana.”

Kemudian Manshur mendoakannya.
Pembantu itu pun berlalu dan kembali kepada majikannya yang gemar menghardiknya. Majikannya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu terlambat dan mana buahnya?” Lantas ia menceritakan bahwa ia telah bertemu sang ahli zuhud bernama Manshur dan bagaimana ia telah memberikan empat dirham kepadanya sebagai imbalan empat doa.

Maka, amarah sang majikan pun redam. Ia bertanya, “Apa yang engkau mohonkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Ia menjawab, “Saya mohon untuk diriku agar saya dibebaskan dari perbudakan.” Lantas majikannya berkata, “Sungguh, saya telah memerdekakanmu. Kamu sekarang merdeka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa doamu yang kedua?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan empat dirham buatku.” Majikannya berkata, “Bagimu empat dirham.
Apa doamu yang ketiga?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatmu.” Lantas si majikan menundukkan kepalanya, menangis, dan menyingkirkan gelas-gelas arak dengan kedua tangannya dan memecahkannya. Lalu ia berkata, “Saya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya tidak akan mengulanginya lagi selamanya. Lalu apa doamu yang keempat?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku, untukmu, dan orang-orang yang hadir di sini.” Sang majikan berkata, “Yang ini bukan wewenangku.
Ini adalah wewenang Dzat Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ketika sang majikan tidur pada malam harinya, ia mendengar suara yang mengatakan, “Engkau telah melakukan apa yang menjadi wewenangmu. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan kepadamu, si pelayan, Manshur bin Ammar, dan semua orang-orang yang hadir.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

KISAH ANAK SHOLIH YANG MELAKUKAN QIYAMUL LAIL

KISAH ANAK SHOLIH YANG MELAKUKAN QIYAMUL LAIL

Kisah Anak Sholih –

Syekh Ibnu Zhafar al-Makki mengatakan,

“Saya dengar bahwa Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Busthami radhiyallahu ‘anhu ketika menghafal ayat berikut:

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2)

Dia berkata kepada ayahnya, ‘Wahai Ayahku! Siapakah orang yang dimaksud Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Yang dimaksud ialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai Ayahku! Mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya qiyamul lail terkhusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diwajibkan baginya tidak bagi umatnya.’ Lalu dia tidak berkomentar.”

“Ketika dia telah menghafal ayat berikut:

‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.’ (QS. Al-Muzzammil: 20)

Lalu dia bertanya, ‘Wahai Ayahku! Saya mendengar bahwa segolongan orang melakukan qiyamul lain, siapakah golongan ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Mereka adalah para sahabat –semoga ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu terlimpa kepada mereka semua.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai ayahku! Apa sisi baiknya meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?’ Ayahnya menjawab, ‘Kamu benar anakku.’ Maka, setelah itu ayahnya melakukan qiyamul lail dan melakukan shalat.”

“Pada suatu malam Abu Yazid bangun, ternyata ayahnya sedang melaksanakan shalat, lalu dia berkata, ‘Wahai ayahku! Ajarilah aku bagaimana cara saya bersuci dan shalat bersamamu?’ Lantas ayahnya berkata, ‘Wahai anakku! Tidurlah, karena kamu masih kecil.’ Dia berkata, ‘Wahai Ayahku! Pada hari manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, saya akan berkata kepada Rabbku, ‘Sungguh, saya telah bertanya kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci dan shalat, tetapi ayah menolak menjelaskannya. Dia justru berkata, ‘Tidurlah! Kamu masih kecil’ Apakah ayah senang jika saya berkata demikian?’.” Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

PEMBURU CINTA

PEMBURU CINTA

Kisah Pemburu Cinta-

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِى ، وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لِعَبَّاسٍ « يَا عَبَّاسُ أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا » . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لَوْ رَاجَعْتِهِ » . قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِى قَالَ « إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ » . قَالَتْ لاَ حَاجَةَ لِى فِيهِ

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas sesungguhnya suami Barirah adalah seorang budak yang bernama Mughits. Aku ingat bagaimana Mughits mengikuti Barirah kemana dia pergi sambil menangis (karena mengharapkan cinta Barirah, pent). Air matanya mengalir membasahi jenggotnya.

Nabi bersabda kepada pamannya, Abbas, “Wahai Abbas, tidakkah engkau heran betapa besar rasa cinta Mughits kepada Barirah namun betapa besar pula kebencian Barirah kepada Mughits.” Nabi bersabda kepada Barirah, “Andai engkau mau kembali kepada Mughits?!” Barirah mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku?” Nabi bersabda, “Aku hanya ingin menjadi perantara.” Barirah mengatakan, “Aku sudah tidak lagi membutuhkannya” (HR. Bukhari no. 5283)

فَأَعْتَقْتُهَا ، فَدَعَاهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَخَيَّرَهَا مِنْ زَوْجِهَا فَقَالَتْ لَوْ أَعْطَانِى كَذَا وَكَذَا مَا ثَبَتُّ عِنْدَهُ . فَاخْتَارَتْ نَفْسَهَا
“Setelah membeli seorang budak bernama Barirah, Aisyah memerdekannya. Setelah merdeka, Nabi memanggil Barirah lalu memberikan hak pilih kepada Barirah antara tetap menjadi istri Mughits atau berpisah dari suaminya yang masih berstatus budak.

Barirah mengatakan, “Walau Mughits memberiku sekian banyak harta aku tidak mau menjadi isterinya”. Barirah memilih untuk tidak lagi bersama suaminya.” (HR. Bukhari no. 2536 dari Aisyah).

Dua hadits di atas mengisahkan seorang budak wanita yang bernama Barirah. Semasa dia menjadi budak, dia memiliki seorang suami yang juga seorang budak. Jadi suami istri adalah sama-sama budak. Suatu ketika pada tahun sembilan atau sepuluh Hijriyah, Aisyah membeli Barirah dari pemiliknya.

Setelah menjadi miliknya, Aisyah memerdekakan Barirah dari perbudakan dan ketika itu suami Barirah yaitu Mughits masih berstatus sebagai budak. Jika seorang budak wanita yang memiliki suami itu merdeka maka dia memiliki hak pilih antara tetap menjadi istri dari suami yang masih berstatus sebagai budak ataukah berpisah dari suami yang lama untuk mencari suami yang baru.

Oleh karena itu setelah merdeka, Nabi memanggil Barirah dan menyampaikan adanya hak ini kepadanya. Ternyata Barirah memilih untuk berpisah dari suaminya. Selama rentang waktu untuk memilih inilah, Mughits selalu membuntuti kemana saja Barirah pergi. Mughits berjalan di belakang Barirah sambil berurai air mata bahkan air mata pun sampai membasahi jenggotnya karena demikian derasnya air mata tersebut keluar. Ini semua dia lakukan dalam rangka mengharap iba dan belas kasihan Barirah sehingga tetap memilih untuk bersama Mughits.

Kondisi ini pun membuat Nabi merasa iba. Sampai-sampai beliau memberi saran dan masukan kepada Barirah agar kembali saja kepada Mughits, suaminya. Namun Barirah adalah seorang wanita yang cerdas. Beliau tahu bahwa saran Nabi itu status hukumnya berbeda dengan perintah Nabi.

Oleh karenanya, Barirah bertanya kepada Nabi apakah yang Nabi sampaikan itu sekedar saran ataukah perintah seorang Nabi kepada salah satu umatnya yang wajib ditaati apapun kondisinya. Setelah Nabi menjelaskan bahwa yang Nabi sampaikan hanya sekedar saran maka Barirah menegaskan bahwa dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali kepada Mughits.

Petikan pelajaran:

•Budak itu tidak sekufu alias setara dalam pernikahan dengan orang merdeka. Oleh karena itu, Barirah memiliki hak untuk memilih antara tetap bersama Mughits ataukah berpisah untuk mencari suami yang lain.

•Para sahabat Nabi itu memelihara jenggotnya. Di antara mereka adalah Mughits sehingga dikatakan bahwa air mata Mughits itu membasahi jenggotnya. Sehingga orang yang demikian benci dengan jenggotnya sampai-sampai dikerok secara berkala adalah orang yang tidak mau meneladani para sahabat Nabi dalam masalah ini bahkan tergolong tidak mau taat kepada Nabi yang memerintahkan umatnya untuk memilhara jenggot. Seorang laki-laki itu akan semakin gagah dan berwibawa mana kala memelihara jenggot. Dikatakan bahwa Abu Hurairah suatu ketika pernah berkata,
إن يمين ملائكة السماء والذي زين الرجال باللحى والنساء بالذوائب
“Sesungguhnya ucapan sumpah para malaikat yang ada di langit adalah kalimat demi zat yang menjadikan seorang pria itu makin tampan dengan jenggot dan menjadikan perempuan semakin menawan dengan jalinan rambut” (Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir tahqiq Abu Said Umar bin Gharamah al ‘Amrawi, juz 36 hal 343, terbitan Darul Fikr Beirut tahun 1416 H)

• Saran atau nasihat Nabi itu berbeda dengan perintahnya. Saran Nabi untuk person tertentu itu hasil finalnya kembali kepada pilihan person tersebut. Sedangkan perintah Nabi itu adalah sesuatu yang harus ditaati tanpa ada pilihan yang lain.
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51)
Yang artinya, “Sesungguhnya perkataan orang-orang yang beriman, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memberi keputusan hukum di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar, dan Kami patuh”.

Dan hanya merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. An Nuur:51).
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)
Yang artinya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. al Ahzab:36)

• Kisah di atas menunjukkan bahwa cinta itu terkadang bertepuk sebelah tangan. Dalam kisah di atas nampak sekali besarnya rasa cinta Mughits kepada Barirah namun Barirah demikian benci kepada Mughits.
Cinta itu tidak harus memiliki. Terkadang rasa cinta tidak harus berujung dengan pernikahan yang langgeng. Lihatlah kandasnya cinta Mughits dan sebuah kenyataan pahit harus ditelan oleh Mughits yaitu tidak bisa lagi memiliki Barirah.

• Kisah di atas juga menunjukkan bahwa cinta yang over dosis itu bisa menghilangkan rasa malu sehingga menyebabkan pelakunya melakukan berbagai hal yang sebenarnya memalukan.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S, M.A.

Kehidupan dinilai dari apa yang Kita lakukan

Kehidupan dinilai dari apa yang Kita lakukan

-Kisah Dari Tetangga-

Prof Dr Ravik Karsidi, Rektor UNS, melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta naik pesawat.

Karena keberangkatan pesawat ditunda 1 jam, beliau menunggu di salah satu Lounge bandara Adisucipto dengan sekedar minum kopi.

Di depannya duduk seorang ibu sudah agak tua, memakai pakaian Jawa tradisional kain batik dan kebaya, wajahnya tampak tenang dan keibuan.

Sekedar mengisi waktu, diajaknya ibu itu bercakap.

“Mau pergi ke Jakarta, Bu ?”

“Iya nak, hanya transit di Cengkareng terus ke Singapura.”

“Kalau boleh bertanya, ada keperluan apa ibu pergi ke Singapura ?”

“Menengok anak saya yang nomor dua nak, istrinya melahirkan di sana terus saya diberi tiket dan diuruskan paspor melalui biro perjalanan. Jadi saya tinggal berangkat tanpa susah mengurus apa-apa.”

“Puteranya kerja di mana, Bu ?”

“Anak saya ini insinyur Perminyakan, kerja di Perusahaan minyak asing, sekarang jadi kepala kantor cabang Singapura.”

“Berapa anak ibu semuanya?”

“Anak saya ada 4 nak, 3 laki, 1 perempuan. Yang ini tadi anak nomer 2. Yang nomer 3 juga laki-laki dosen Fakultas Ekonomi UGM, sekarang lagi ambil program Doktor di Amerika. Yang bungsu Perempuan jadi Dokter Spesialis Anak. Suaminya juga dokter, ahli bedah dan dosen di Universitas Airlangga Surabaya.”

“Kalau anak sulung ?”

“Dia Petani, Nak, tinggal di Godean, menggarap sawah warisan almarhum Bapaknya.”

Sang Profesor tertegun sejenak lalu dengan hati-hati bertanya:

“Tentunya ibu kecewa kepada anak sulung ya Bu, kok tidak Sarjana seperti adik-adiknya.”

“Sama sekali tidak, Nak. Malahan Kami sekeluarga semuanya hormat kepada dia, karena dari hasil sawahnya dia membiayai hidup Kami dan menyekolahkan semua adik-adiknya sampai selesai jadi Sarjana.”

Kembali sang Profesor merenung :

“Ternyata yang penting bukan Apa atau Siapa Kita, tetapi apa yang telah kita perbuat.
Allah tidak akan menilai Apa dan Siapa kita tetapi apa yang Kita lakukan”.

Sebuah pelajaran hidup yang mengajarkan, agar kita melakukan yang terbaik tanpa berharap pujian……
Tanpa terasa air mata profesor mengalir di pipinya…

LAKUKAN YANG TERBAIK YANG BISA KITA LAKUKAN KARENA MANUSIA YANG MULIA BUKAN TERLETAK PADA KEDUDUKAN ATAU JABATANNYA TETAPI TERLETAK PADA SEBERAPA BESAR DIA BISA BERBUAT YANG TERBAIK BAGI SESAMA

HIDAYAH MILIK SIAPA SAJA

HIDAYAH MILIK SIAPA SAJA

Saat acara Pertemuan Wali Santri Baru di Pondok Pesantren Al Irsyad Tengaran, Salatiga, para peserta dikejutkan dengan hadirnya salah seorang mantan atlet Sepak Bola yang telah memperkuat salah satu grup kesebelasan sepak bola, salah satu kota di Indonesia. Beliau adalah Muhammad Ridwan. Ente yang gemar sepak bola pasti tidak asing mendengar namanya. Beliau ternyata juga merupakan salah satu Wali Santri baru di Pondok Pesantren tsb.

Pada acara tsb, beliau dipercaya untuk memberikan kata sambutan mewakili ribuan wali santri baru.
Beliau pun bercerita singkat tentang perjalan hidupnya selama ini hingga memutuskan menyekolahkan anaknya di Pondok Pesantren Al Irsyad.
Beliau bercerita bahwa selama masih menjadi atlet sepak bola, beliau sangat sibuk bahkan sering meninggalkan keluarganya yaitu Istri dan anak-anaknya untuk berlatih dan berlaga di dunia sepak bola, sehingga beliau sendiri pun merasa kurang mengenal agamanya, bahkan anaknya pun nyaris “kurang perhatian thp pendidikan agamanya”.

Hingga suatu saat akhirnya beliau mulai mengenal lebih agama Islam, yang berawal dari artikel di Media sosial, ceramah di Youtube dan sampai menghadiri Kajian-kajian.
Beliau tertarik dengan Ustadz-ustadz Sunnah yang menyampaikan ceramah, yang menurut beliau sangat baik materi yang disampaikan.
Ada salah satu Ustadz Sunnah yang beliau kagumi, sehingga membuat hatinya penasaran dan kemudian menggerakkan hatinya menelusuri jejak Pendidikan dari Ustadz tsb. Hingga akhirnya dia mengetahui bahwa jenjang Pendidikan yang dilewati oleh Ustadz yang dikagumi tsb salah satunya adalah di Pondok Pesantren ini.
Di hati Beliau ingin agar anak keturunannya bisa mengenyam Pendidikan di Pondok Pesantren ini. Tapi beliau paham bahwa untuk bisa masuk dan mengenyam Pendidikan di Pondok Pesantren ini tidaklah mudah, dan beliau merasa bahwa anaknya masih sangat kurang mengenal Pendidikan Islam. Hingga akhirnya beliau membuat keputusan hidup yang sungguh luar biasa. Beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari atlet sepak bola dengan tujuan agar beliau dapat fokus memperhatikan keluarganya dan lebih mempersiapkan Pendidikan anaknya agar dapat masuk ke Pondok Pesantren ini.
Gemerlap dunia atlet sepak bola yang telah membesarkan nama beliau dan kenikmatan duniawinya yang telah didapatkan, tak sedikitpun menggoyahkan pendiriannya.

Keputusan tsb bukanlah keputusan yang mudah, karena beliau paham berbagai kendala akan datang dan harus siap untuk dihadapi. Dihina dan direndahkan itu sudah pasti. Kendala besar adalah dari keluarganya yaitu orang tua dan kakek-neneknya.
Namun berkat doa dan usahanya memahamkan keluarganya, akhirnya keluarganya pun menerima keputusannya tsb.

Dan saat ini, jerih payahnya pun telah membuahkan hasil. Anaknya telah dinyatakan LULUS dan diterima untuk mengenyam Pendidikan di Pondok Pesantren Al Irsyad. Kebahagiaan dan rasa syukur pun nampak pada wajahnya. Beliau pun diberikan kepercayaan untuk memberikan kata sambutan mewakili sekian ribu wali santri baru. Beliau berdiri dihadapan para Asaatidzah dan Syaikh dari Arab Saudi.
Grogi ? pastilah, bahkan beliau lebih memilih lari 10 kali mengelilingi lapangan daripada harus berdiri dan berbicara di depan para Asaatidzah….

Pelajaran untuk Kita semua,
-Bahwa berubah menjadi baik itu bukanlah perkara bisa atau tidak, tapi antara mau atau tidak.
-Hidayah itu harus dicari dengan ketekunan, tenaga ekstra dan pengorbanan besar.
-Bila Kita menginginkan “Mutiara” maka Kita harus menyelam lebih kuat dan dalam untuk mendapatkannya.

Barakallahu fiik.
Semoga Allah senantiasa memberkahi dan menjaga
keistiqomahan Kita semua di jalan yang haq ini.
Aamiin…