7 Tahun Adalah Usia Ideal Masuk SD, Ini Alasannya

7 Tahun Adalah Usia Ideal Masuk SD, Ini Alasannya

Memiliki Anak yang pintar dan cerdas adalah dambaan setiap orang tua. Biasanya para orang tua berusaha sekuat tenaga memberikan dukungan untuk menyiapkan anak dalam meningkatkan intelektual si anak khususnya Pendidikan di Sekolah.

Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di SD. Itu yang menjadi dasar pertimbangan peraturan 7 tahun masuk SD.

Banyak orang tua yang protes pada Panitia Penerimaan Siswa Baru karena anaknya tidak bisa diterima di SD dengan alasan usia kurang dari 7 tahun. Karena orang tua merasa anaknya sudah mampu baca tulis dan berhitung.

Tetapi apakah secara mental atau psikologis anak sudah siap? Pada usia 5-6 tahun masih dalam tahap mengembangkan keterampilan sosial dan motorik atau gerak.

Sedangkan untuk mulai belajar di kelas 1 SD anak harus sudah bisa serius mengikuti pelajaran dalam waktu yang cukup lama dan dalam ruang yang terbatas.

Dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, berikut 4 alasan mengapa usia masuk SD ditetapkan 7 tahun minimal 6 tahun:

1. Faktor  Fisik

Pada usia 7 tahun, anak dianggap paling siap secara fisik. Untuk diam di kelas sampai siang. Gerakan motorik anak sudah lebih bagus, otot dan sarafnya juga sudah terbentuk.

Untuk memegang pensil misalnya, anak sudah lebih mampu jika harus menulis sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Sementara usia kurang dari 6 tahun terkadang belum siap, karena anak-anak usia ini masih suka bermain.

2. Faktor Psikologis

Dalam teori perkembangan, anak mulai bisa berkonsentrasi dengan baik pada usia di atas 6 tahun. Semakin bertambah usianya, kemampuan konsentrasi meningkat, semakin mampu memilah materi mana yang harus diperhatikan dan yang harus diabaikan.

Rentang konsentrasi untuk usia sekolah biasanya sekitar 30-45 menit. Anak yang terlalu dini masuk SD umumnya masih bermasalah khususnya di kelas satu, karena ia belum siap untuk belajar berkonsentrasi. Ia masih mengembangkan keteram­pilan geraknya.

Akibatnya dia akan sulit berkonsentrasi, meskipun secara kemampuan intelektualnya dia sudah cukup mampu menyelesaikan soal-soal yang disediakan.

3. Faktor Kognitif

Saat akan masuk ke SD anak diharapkan mampu membaca, menulis, berhitung sederhana. Selain itu anak juga diharapkan mampu mengikuti instruksi, paham dan bisa mengerjakan soal-soal yang diberika.

4. Faktor Emosi

Umumnya anak yang terlalu dini masuk SD memang cukup matang secara akademik. Namun biasanya kematangan emosi dan kemandiriannya belum maksimal. Padahal di jenjang SD anak tidak lagi akan mendapat perhatian seperti di TK. Ia diharapkan lebih mandiri dan juga tidak lagi terlalu tergantung pada orangtuanya.

Jadi, masalah yang akan terlihat adalah anak bisa mengikuti pelajaran di sekolah, tapi di sisi lain, misalnya anak masih minta ditunggui bunda atau tidak berani pipis sendiri di toilet umum sekolah atau mudah menyerah terhadap tugas yang diberikan atau tidak mau mengerjakan PR karena masih lebih suka bermain dan sebagainya.

Melihat berbagai aspek tersebut, sebaiknya ayah bunda jangan terlalu dini menyekolahkan anak, lihat kondisi anak. Karena tiap anak berbeda. Jika ayah bunda memang masih belum yakin memasukkan anak ke SD, bila perlu konsultasikan dengan psikolog anak apakah anak ayah bunda sudah siap atau belum memasuki SD.

Alangkah baiknya tidak memaksakan kehendak pada anak. Biarkan anak juga yang menentukan. Keberhasilan dan perkembangan anak juga ditentukan oleh keputusan awal memasukkan anak ke SD.

Sumber : Kompas.com

Jaga Waktu Berkualitas Dengan Anak Bagi Orang Tua Yang Bekerja, Ini Tipsnya

Jaga Waktu Berkualitas Dengan Anak Bagi Orang Tua Yang Bekerja, Ini Tipsnya

Orang tua sibuk bekerja bukan berarti tidak bisa mendapatkan waktu berkualitas dengan anak. Seringkali, orang tua yang kerja sudah terlalu lelah untuk bermain dengan anaknya saat pulang kerja sehingga tidak memberikan waktu berkualitas dengan anak.

Padahal, waktu berkualitas tidak perlu lama, hanya membutuhkan waktu 15-30 menit setiap harinya.

Psikolog anak Ayoe Sutomo menjelaskan kalau menghabiskan waktu dengan anak tidak perlu mengambil waktu yang banyak.

“Kalau kualitasnya bagus, 15-30 menit itu sudah waktu yang sangat cukup.

Dengan catatan waktunya penuh untuk anak saja,” jelas Ayoe Sutomo, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Desember 2018.

Orang tua tidak boleh sambil bermain dengan gawai atau sambil bekerja. Menghabiskan waktu berkualitas bukan hanya menghabiskan waktu bersama, tetapi membangun kedekatan yang lebih baik antara orang tua dan anak.

Orang tua harus berinteraksi dan berbincang dengan anak. “Bermain dengan anak itu bukan mengawasi ya. Kadang-kadang orang tua bermain dengan anak itu ya sudah anak main, orang tua kemudian hanya melihat saja. Tidak seperti itu,” lanjut Ayoe Sutomo.

Waktu juga bisa disesuaikan dengan jam biologis anak. Bila anak suka tidur lebih cepat dan bangun pagi, orang tua sebaiknya menghabiskan waktu berkualitas pada pagi hari. Bila anak tidur malam dan bangun siang, bermain dengan anak sebelum dia tidur.

Selain itu, bermain dengan anak juga bisa dilakukan dengan cara kreatif. “Seringkali orang tua memiliki waktu terbatas dengan anak, lalu mau ngapain ya? Akhirnya ya berdua tapi main gadget, itu lagi itu lagi.

Orang tua harus kreatif di waktu tersebut,” tutur Ayoe. Orang tua harus bisa memikirkan cara-cara kreatif untuk bisa meningkatkan kedekatan emosional dengan anak. Bila orang tua bisa melakukan hal tersebut, 30 menit setiap hari sudah cukup untuk menjaga kedekatan emosional yang baik.

Sumber : Tempo.co

Ini Dampak Buruknya Bila Kedekatan Emosional Orangtua dengan Anak Tidak Terpenuhi

Ini Dampak Buruknya Bila Kedekatan Emosional Orangtua dengan Anak Tidak Terpenuhi

Sibuk dalam rutinitas keseharian dikarenakan berbagai aktivitas dan intensitas penggunaan teknologi seperti telepon genggam dan media sosial kerap kali memengaruhi kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Padahal sesibuk apapun itu, adalah tugas orang tua untuk tetap membangun kedekatan dengan anak.

Kedekatan anak dengan orang tua adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, pembentukkan karakter anak, dan akan memengaruhi kecerdasan anak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang mendapatkan kasih sayang dan dukungan orangtua semasa kecil akan tumbuh menjadi pribadi dengan sikap positif saat ia beranjak dewasa dan begitu pula sebaliknya.

Psikolog anak Ayoe Soetomo menjelaskan bahwa seperti hal nya orang dewasa, anak juga memiliki kebutuhan emosional. “Kebutuhan untuk merasa aman, kebutuhan disayang, dan kebutuhan diakui sangat dibutuhkan anak dari orang tuanya. Tentunya itu semua bisa didapat kalau hubungan antara orang tua dan anak baik,” ujar Ayoe Soetomo yang diwawancarai di Shangri-La Hotel, Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Namun, jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak didapatkan dari adanya kedekatan antara orang tua dan anak, apa yang terjadi? Psikolog Ayoe juga mengungkapkan, jika kedekatan emosional antara keduanya tidak terpenuhi, terdapat efek-efek buruk bagi anak dalam proses tumbuh kembangnya.

“Ketika anak tidak pernah dipuji, anak akan merasa dirinya tidak berharga, dan ketika tidak ada yang mengapresiasi maka anak tidak mempunyai penilaian konsep diri terhadapnya sehingga dia tidak memiliki kepercayaan diri dan memiliki kepribadian yang sulit. Padahal orang yang memiliki kepribadian yang fleksibel, percaya diri, dan penuh motivasi yang muncul dari internal maupun eksternal sangat berperan penting terhadap potensi sukses individu kedepannya,” sambungnya.

Maka dari itu, agar efek-efek tersebut tidak terjadi pada buah hati Anda, luangkanlah waktu khusus untuk anak Anda. Ciptakan waktu berkualitas bersama anak dengan rutin, karena kebutuhan dasar anak adalah bisa merasa dekat dan merasakan kasih sayang dari orang tuanya.

Sumber : Okezone.com

Ini 6 Ciri Siswa Kreatif

Ini 6 Ciri Siswa Kreatif

Banyak penelitian membenarkan berpikir Siswa kreatif sangat baik bagi kesehatan mental dan fisik seseorang, mulai dari mengurangi stres dan kecemasan hingga meningkatkan kebugaran tubuh.

Kreativitas tinggi bisa juga menjadi senjata andalan di tengah ketatnya persaingan dunia kerja. Siswa kreatif sangat memahami potensi diri dan mampu melakukan terobosan menarik yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh orang lain.   Mereka cukup sulit digambarkan. Ini karena kreativitas melibatkan sejumlah proses berpikir, imajinatif, tindakan, dan emosi berbeda-beda pada setiap orang.

Dikutip dari Huffington Post berikut 6 karakteristik siswa kreatif:

  1. Tidak hanya pintar

Studi Stanford University menunjukkan kecerdasan IQ berkaitan dengan kreativitas.

Orang cerdas dilihat dari skor IQ rata-rata memiliki rasa ingin tahu tinggi sehingga mampu berpikir kreatif dan menyelesaikan pekerjaan dengan cara kreatif.

  1. Suka berimajinasi tapi realistis

Siswa kreatif suka berangan-angan membayangkan hal yang kadang tidak terpikirkan orang lain. Ini adalah ciri-ciri mereka paling khas. Mereka cenderung menjadi seniman, musisi, penulis, atau pelukis. Walaupun pada kenyataanya, pemikiran kreatif tidak membatasi kegiatan seseorang, misal dalam dunia bisnis. Meski sering “berkhayal di siang bolong”, mereka tidak berdiam diri. Ide-ide yang mereka pikirkan sering dituangkan menjadi kenyataan dan terobosan baru.

  1. Suka bermain namun disiplin

Inilah sebab mengapa karakteristik siswa kreatif sulit digambarkan. Mereka cenderung senang bermain, tapi tetap disiplin. “Bermain” dimaksud adalah kombinasi antara sikap aktif dan keingintahuan mereka terhadap sesuatu.

  1. Banyak energi tetapi tetap fokus

Sering ditemui siswa kreatif memiliki banyak energi, baik secara fisik maupun mental. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam melakukan hal menarik perhatian mereka dengan konsentrasi tinggi. Banyak energi berbeda dengan hiperaktif. Mereka memahami waktu dan mengenal kemampuan diri dengan baik. Mereka tahu kapan sebaiknya istirahat mengembalikan energi dan waktu-waktu tertentu saat mereka melakukan pekerjaan dengan baik.

  1. Memiliki passion kuat dan tetap fleksibel

Siswa kreatif biasanya mencintai tugas dan bersemangat menyelesaikan dengan baik. Di sisi lain, mereka juga fleksibel. Misalnya penulis tetap mendengarkan dan menghargai masukan serta kritik dari editor dan orang-orang sekitar mengenai tulisannya. Di sisi lain, mereka tidak berhenti sampai di situ saja karena siswa kreatif tetap bisa mempertahankan pendapat pribadi dengan alasan yang masuk akal.

Baca juga : Wow Siswa Indonesia Raih Medali Emas Olimpiade Fisika, Menyaingi 90 Negara 

  1. Ambivert

Ada dua tipe kepribadian umum di dunia, introvert tertutup dan si gaul ekstrovert. Menurut penelitian, siswa kreatif cenderung berada di tengah. Kepribadian campuran introvert dan ekstrovert disebut ambivert. Tipe kepribadian ini merujuk pada orang supel, ramah, dan bersosialisasi dalam kelompok besar, tapi tetap membutuhkan waktu menyendiri untuk berpikir. Sisi supel dan “haus akan interaksi” orang-orang ekstrovert memungkinkan mereka mencari inspirasi dan ide-ide baru, sementara sisi introvert membantu tetap bisa fokus pada pekerjaan dan mematangkan ide.

Demikian ciri-ciri siswa kreatif yang perlu Anda ketahui.

Sumber : kompas

 

Inilah 5 Kenangan Tentang Orangtua yang Paling Diingat Anak

Inilah 5 Kenangan Tentang Orangtua yang Paling Diingat Anak

Anak-anak Kita bagaikan kertas putih polos yang belum ternoda ketika dilahirkan ke dunia. Interaksi pertama mereka tentu dengan orangtua dan orang-orang terdekat di rumah. Sehingga bukan hal baru jika kemudian kejadian-kejadian yang ada menjadi kenangan anak tentang orang tuanya.

Namun pernahkah kamu penasaran apa saja kenangan yang paling diingat anak tentang orangtuanya? Dilansir dari Today.com, ternyata ini 5 kenangan anak tersebut :

1. Memberi kenyamanan dan keamanan
Anak akan mendapatkan kenangan paling melekat ini pada orangtuanya, apakah orangtua bisa memberikan kenyamanan dan keamanan atau tidak. Karena perasaan nyaman dan aman inilah, banyak anak akan selalu pulang ke rumah. Rumah orangtua adalah tempat pulang paling tentram bagi seorang anak, atau justru sebaliknya.

2. Perhatian penuh
Melengkapi perasaan aman dan nyaman yang bisa dibangun orangtua, anak juga merakan perhatian yang diberikan orangtua. Ada kalanya orangtua terlalu sibuk dan tak memberikan perhatian yang semestinya, hal ini juga akan sangat melekat di ingatan dan hati anak.

3. Cara orangtua saling berinteraksi
Anak adalah observer yang jeli tanpa kamu sadari. Ia tahu dan bisa menilai bagaimana interaksi Ibu dan Ayahnya. Dengan ini pula ia akan membangun pengertian di dalam benaknya seperti apakah keluarga yang ia miliki. Oleh karena itu, penting sekali menunjukkan interaksi penuh kasih di hadapan anak.

4. Kata-kata tegas
Ada kalanya orangtua marah dan berkata tegas, momen seperti ini juga akan membekas di hati dan pikiran anak. Entah itu kesan baik atau justru buruk, cara mendidik dan mendisiplinkan anak dengan kata-kata tegas pasti akan diingat anak.

5. Tradisi keluarga
Karena hidup sejak lahir dengan orangtua, anak pasti akan mengenali tradisi keluarganya, entah itu mencium pipi sebelum berangkat sekolah, makan bersama di meja makan atau kebiasaan main gadget, akan ada banyak kebiasaan dan tradisi yang akan diingat anak.

Baca juga : Setiap Ibu Menyusui Harus Tahu, inilah 7 Tips agar ASI Melimpah

Anak mudah sekali belajar dari lingkungan sekitarnya, apalagi yang paling dekat, yaitu orangtua. Jadi, usahakan selalu memberikan contoh dan teladan yang baik di hadapan anak ya Bunda.

Setiap Ibu Menyusui Harus Tahu, inilah 7 Tips agar ASI Melimpah

Setiap Ibu Menyusui Harus Tahu, inilah 7 Tips agar ASI Melimpah

Bunda, ASI merupakan sumber makanan utama bagi bayi untuk meningkatkan tumbuh kembangnya. Memberikan ASI secara eksklusif dapat meningkatkan daya tahan tubuhnya di masa depan. ASI juga dapat membantu agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi. Sayangnya tidak semua ibu menyusui dapat menghasilkan ASI yang melimpah.

Berikut ini adalah 7 tips agar bunda dapat menghasilkan ASI yang melimpah. Yuk, simak penjelasan dari vemale berikut ini.

  1. Saat menyusui usahakan jangan sampai menunggu si kecil menangis, Bunda bisa lebih awal menawarkan ASI kepada si kecil ketika ia terlihat lapar. Kenali tanda-tanda anak yang sedang lapar. Hal ini dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Dan harus menjadi perhatian jangan lupa untuk memastikan si kecil menghisap aerola bukan puting.
  2. Saat ibu menyusui pastikan ya, Bunda menjalani pola makan yang sehat. Makanan bernutrisi, seperti sayuran dan buah-buahan yang sehat dapat membantu meningkatkan ASI.
  3. Melakukan skin to skin dengan si kecil akan meningkatkan kedekatan emosional Bunda dengan anak. Perlu dikerahui bahwa kedekatan ini dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Rasa aman dan nyaman akan membuat bunda merasa tenang, sehingga produksi ASI pun melimpah.
  4. Kunci sukses menyusui adalah rasa nyaman bagi ibu. Jadi pastikan bunda menjauhi stres, hindari terlalu banyak pikiran yang akan mempengaruhi kesehatan bunda dan mempengaruhi produksi ASI.
  5. Ikuti keinginan si kecil. Jika memang ia ingin menyusu, segera berikan jangan terlalu berpatokan pada jam.
  6. Pijatan lembut pada payudara akan membuat lebih relaks dan menghindari lecet. Pijat setelah dan sebelum mebundapa ASI untuk mendapat hasil yang baik.
  7. Saat memberikan ASI tubuh banyak membutuhkan cairan yang cukup. Tidak hanya air putih saja, cairan dapat berupa jus maupun susu biasa. Usahakan membatasi konsumsi teh dan kopi berlebihan. Mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung air seperti pear, apel, dan semangka sangat disarankan.

Baca juga : Kenali Anak Berperilaku Buruk 

Nah, bunda demikian 7 hal yang dapat dilakukan demi mendapatkan ASI yang melimpah. Semoga informasi ini bermanfaat dan selamat mencoba.

KENALI ANAK BERPERILAKU BURUK

KENALI ANAK BERPERILAKU BURUK

Anak Berperilaku Buruk – Menjadi orangtua perlu kesabaran dan cara tepat mendidik anak. Tantangan bakal datang bila anak berperilaku buruk seperti jadi sering marah, mengambek, mengamuk, atau menghentak-hentakkan kakinya. Masih banyak lagi contoh anak berperilaku buruk.

Saat anak berperilaku buruk tidak sedikit orang tua yang kehilangan kesabaran dan bertindak di luar batas. Hal itu bisa saja dikarenakan orang tua tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak.  Oleh karena itu, orang tua perlu mempelajari dan mencoba mengetahui alasan anak berperilaku buruk seperti dilansir dari laman Step to Health pada Rabu (1/8/2018).

1. Ingin mendapatkan perhatian
Salah satu alasan anak seringkali berperilaku buruk karena ingin mendapatkan perhatian dari orangtua. Coba refleksi diri, bisa jadi selama ini kerap terlalu sibuk dengan pekerjaan atau ponsel sampai membuat anak merasa tidak diperhatikan. Orangtua yang memiki kegiatan atau pekerjaan di luar rumah kerap mengakibatkan anak menjadi anak yang melakukan aktifitasnya sendirian. Seringnya kondisi sendiri ini dapat mengakibatkan kejenuhan dan anak ingin mencari pengakuan ke orang lain, sehingga bertingkah laku yang aneh dan buruk menjadi pilihan bagi si anak.

2. Anak merasa diabaikan
Saat orangtua memaksakan sesuatu ke anak dan tidak mendengarkan pendapatnya bisa membuat Si Kecil merasa diabaikan. Sementara, bila membuat ulah membuat orangtua memerhatikannya. Ini bisa mencegah terjadinya Anak Berperilaku Buruk.  Kebiasaan tersebut dapat mendorong anak untuk melakukan kesalahan karena menurut mereka cara tersebut berhasil untuk mendapatkan perhatian.

Demikian contoh-contoh bentuk Anak Berperilaku Buruk.

Baca juga : Wah ada 9 Cara Untuk Mengembangkan Kecerdasan Kinestetik Anak

Sumber : liputan6

Ada Apa dengan Susu Kental Manis ?

Ada Apa dengan Susu Kental Manis ?

Berita yang sedang heboh beberapa hari ini adalah tentang susu kental manis yang ternyata bukanlah susu. “Loh, bagaimana maksudnya?” ini mungkin kalimat pertama yang Anda lontarkan ketika mendengar berita tersebut.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) beberapa waktu lalu menerbitkan surat edaran terkait produk susu kental manis. Dalam surat tersebut, BPOM menjelaskan 4 larangan yang harus diperhatikan oleh produsen, distributor, dan importir produk susu kental manis. Berikut ini ringkasan surat edaran tersebut.

  1. Dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apa pun.
  2. Dilarang memvisualisasikan produk susu kental manis dan analognya sebagai produk penambah zat gizi.
  3. Dilarang memvisualisasikan gambar susu cair atau susu dalam gelas dan juga dilarang disajikan sebagai susu yang diseduh untuk minuman.
  4. Khusus untuk konten iklan, dilarang ditayangkan pada jadwal tayang acara anak-anak.

Berdasarkan surat edaran tersebut, produsen, pengusaha, importir, atau distributor susu kental manis harus menyesuaikan produknya dengan surat edaran tersebut. Penyesuaian tersebut dilakukan selama maksimal 6 bulan setelah surat edaran di atas diterbitkan.

Perdebatan tentang susu kental manis ini sebenarnya sudah berlangsung dalam waktu yang lama. Ada banyak sekali orangtua yang salah paham dengan susu kental manis. Mereka menganggap susu kental manis sama dengan susu sapi. Akibatnya kesalahpahaman tersebut,banyak orangtua memberikan susu kental manis untuk bayinya yang bahkan belum genap berusia satu tahun.

 

Yang lebih disayangkan lagi, ada banyak sekali kasus gizi buruk akibat orangtua salah memberikan produk susu tersebut kepada anak. Orangtua yang memiliki keterbatasan biaya menganggap produk susu kental manis sama seperti susu formula yang bisa diberikan ke bayi dan anak-anak. Akibatnya, anak kekurangan nutrisi.

Dengan adanya surat edaran dari BPOM,diharapkan orangtua bisa lebih paham bahwa susu kental manis sebenarnya bukanlah susu formula. Susu kental manis memang memiliki kandungan gizi yang cukup baik, tetapi akan sangat berbahaya jika diberikan kepada bayi. Kandungan gula yang tinggi tidak disarankan untuk anak di bawah usia 5 tahun.

Bagi orang dewasa pun, konsumsi susu kental manis ini tidak dianjurkan terlalu sering dikonsumsi. Penyajian susu kental manis seharusnya hanya untuk bahan campuran pelengkap makanan saja seperti topping kue dan es. Jadi, bukan sebagai konsumsi utama atau malah pengganti sarapan.

Menurut pendapat dr. Tirta Pratiwi Sari, Sp.GK, M.sc, dokter spesialis gizi, susu kental manis mengandung gula yang sangat banyak. Jika dilihat dari sisi proteinnya, susu kental manis mengandung hanya sedikit protein. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan susu segar atau susu formula. Belum lagi, masyarakat biasanya masih menambahkan gula pasir saat menyeduh susu kental manis. Kandungan gula jadi berlipat.

Resiko Susu Kental Manis pada Anak Usia Di Bawah 5 Tahun

Kebutuhan gizi setiap anak tentu berbeda. Nutrisi yang dibutuhkan sangat bergantung pada tahapan tumbuh kembang anak. Jika orangtua ingin memberi anak asupan nutrisi melalui susu, setidaknya harus sesuai dengan usia anak dan gizi yang ia butuhkan.Terlalu sering memberikan susu kental manis pada bayi apalagi anak dapat menimbulkan risiko sebagai berikut.

1. Memberatkan Organ Tubuh Bayi

Organ tubuh bayi masih belum berkembang secara sempurna. Mereka belum bisa mencerna kandungan gizi kompleks, selain ASI dan juga susu formula. Konsumsi susu kental manis dapat memberatkan kinerja organ tubuh bayi.

Lebih dari itu, seperti yang telah dijelaskan di atas, kandungan nutrisi pada susu kental manis tidak sesuai dengan kebutuhan nutrisi bayi. Oleh karena itu, jangan sekali-kali memberikan susu kental manis kepada bayi.

2. Berisiko Menimbulkan Alergi

Beberapa bayi tidak bisa mentoleransi kandungan gula berlebih pada susu kental manis. Reaksi tubuh yang menolak kandungan dalam susu kental manis tentu akan menimbulkan gejala alergi seperti kulit ruam, kembung, diare, atau muntah-muntah.

Anda tentu tidak ingin bayi Anda mengalami masalah seperti yang dijelaskan di atas bukan? Dokter mana pun pasti tidak akan menyarankan susu kental manis pada bayi.

3. Risiko Kesehatan Serius

Ada banyak kasus gizi buruk yang menimpa bayi akibat pemberian susu kental manis.

Awal 2018, tercatat ada 4 anak — 3 diantaranya berusia dibawa 1 tahun– di Sulawesi Selatan yang menderita malnutrisi hingga dirawat di RS setempat karena orangtuanya memberikan susu kental manis sebagai pengganti ASI dan susu formula.

Pemberian susu kental manis memang beresiko menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Bayi bisa mengalami kerusakan ginjal. Ginjal bayi yang masih dalam masa berkembang terpaksa harus bekerja lebih keras untuk mencerna susu kental manis.

Selain itu,anak yang sering mengonsumsi susu kental manis juga lebih berisiko terkena diabetes di usia dini.

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa susu kental manis sebenarnya tidak terlalu sehat untuk dikonsumsi, terutama bagi bayi. Sebutan “susu kental manis bukanlah susu” tentu tidak sepenuhnya salah. Alih-alih mendapatkan manfaat layaknya mengonsumsi susu, susu kental manis justru hanya mengandung gula yang tinggi dan bahaya penyakit serius yang mengintai konsumennya.

 

Jaman Hoax, tingkatkan diri dengan Belajar Sains

Jaman Hoax, tingkatkan diri dengan Belajar Sains

Di kalangan Pelajar, sains dianggap sebagai salah satu pelajaran yang membosankan. Peneliti independen di Eropa pernah melakukan survey terkait hal tersebut. Hasilnya, sebanyak 51% siswa yang diteliti mengatakan bahwa mata pelajaran sains memang sulit, membingungkan, dan juga membosankan. Lalu, 79% siswa juga setuju bahwa hanya siswa yang secara asal memang pandailah yang menguasai sains.

Tak hanya di Eropa, pelajaran sains juga dianggap sebagai pelajaran susah oleh anak-anak Indonesia. Di kalangan pelajar Indonesia pun muncul persepsi bahwa sains hanya bisa dikuasai oleh anak-anak pintar. Itulah alasan mengapa jurusan IPA di SMA selalu dianggap sebagai jurusan untuk anak-anak unggul.

Mengapa Anak-Anak Menganggap Pelajaran Sains Membosankan?

Persepsi yang sudah terlanjur tumbuh dalam kehidupan sehari-hari memang susah untuk diubah. Hingga saat ini, sains memang masih menjadi pelajaran “momok” bagi siswa. Kesulitan muncul  akibat dari perasaan tidak suka para siswa saat belajar sains. Tentu ada alasan yang mendasari mengapa sebagian besar siswa tidak menyukai sains. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Anak Tidak Mengerti Manfaat Pelajaran Sains

Anak-anak sering bertanya tentang mengapa seseorang harus belajar sains? Akan tetapi, sering kali pertanyaan tersebut tidak dijawab dengan benar oleh orangtua atau guru. Sebagian besar orang dewasa hanya menjawab bahwa ilmu sains sangat penting, dan anak akan menyadari betapa pentingnya ilmu sains saat dewasa.

Dengan jawaban seperti itu, tentu anak tidak akan merasa puas. Mereka akan tetap berpikir bahwa ilmu sains sangat membosankan dan tidak bermanfaat.

2. Guru yang Tidak Menyukai Sains

Idealnya, guru pasti menyukai mata pelajaran yang ia ajarkan. Guru yang tidak menyukai mata pelajaran yang diampu sangat mungkin untuk menyalurkan ketidaksukaannya kepada murid.

Untuk pelajaran sains yang sering dianggap susah, peran guru sangat penting untuk memancing minat siswa dalam belajar sains. Guru yang mengajar dengan menyenangkan dan sepenuh hati akan membuat siswa lebih semangat dalam belajar.

3. Metode Belajar yang Kurang Menyenangkan

Bayangkan saja jika orangtua atau guru bisa mengajarkan sains seperti ketika mengajarkan seni atau olahraga, pasti anak akan lebih bersemangat. Pelajaran sains yang sudah memiliki label membosankan harus diajarkan menggunakan metode belajar yang berbeda supaya anak lebih bersemangat dalam belajar.

Metode belajar yang menyenangkan harus ditemukan oleh orangtua atau guru. Bagaimana pun, pelajaran sains sangat penting bagi anak-anak. Kesukaannya pada pelajaran sains harus ditumbuhkan sejak kecil.

Mengapa Sains Penting Bagi Anak?

Orangtua dan guru seringkali memandang sains hanya sebagai pelajaran sekolah. Nilai sains yang tinggi dianggap sebuah pencapaian akhir. Padahal sains sebenarnya lebih dari itu.

Sains berkaitan dengan cara berpikir anak. Mereka yang tumbuh dalam lingkungan orangtua yang mendukung anak belajar sains sejak usia dini akan mengembangkan cara berpikir yang lebih kritis, logis dan mereka lebih bisa memecahkan masalah sendiri.

Jika cara berpikir yang demikian terus ditumbuhkan, anak tidak akan mudah termakan berita-berita palsu (hoax) ataupun percaya pada hal-hal yang tidak logis.

Secara otomatis anak akan memverifikasi suatu informasi yang ia terima terlebih dahulu. Ini sebuah cara berpikir yang perlu lebih ditumbuhkan di era banjir informasi seperti sekarang ini. Hingga negeri kita bisa punya generasi yang “bebas hoax”.  

Nah, Parents masih ingin menunda mengajarkan sains pada anak?

 

Tik Tok antara Kebanggaan atau Kewaspadaan ?

Tik Tok antara Kebanggaan atau Kewaspadaan ?

Layaknya generasi millenial yang sangat suka eksis di Facebook, Twitter, atau Instagram, generasi Z juga punya aplikasi media sosialnya sendiri. Sudahkah Orantua berkenalan dengan aplikasi Tik Tok?

Aplikasi ini sekilas mirip dengan Musical.ly yang sudah lebih dulu populer di banyak negara. Tik Tok adalah aplikasi pembuat konten video berdurasi singkat dengan fitur-fitur yang unik dan lucu. Video yang sudah dibuat tersebut kemudian bisa di-share langsung ke pengguna Tik Tok atau ke media sosial lainnya.

Aplikasi buatan Tiongkok ini banyak digunakan oleh gen Z. Mengapa aplikasi ini sangat diminati oleh kaum remaja yang masuk kategori gen Z ?

Alasannya adalah karena aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk membuat video pendek unik yang didukung dengan musik.

TikTok mampu memfasilitasi keinginan Gen Z untuk mengaktualisasi diri. Tidak heran, meski sejak diperkenalkan di Indonesia pada September 2017 lalu, aplikasi ini cepat sekali booming di kalangan remaja.

Beberapa pekan terakhir, aplikasi Tik Tok masih terus menduduki posisi pertama di Google Play Store dan App Store sebagai aplikasi paling dicari. Pengguna Tik Tok diklaim mencapai lebih dari 120 juta di seluruh dunia.

Jika Orantua penasaran dengan video-video Tik Tok, Anda tinggal buka Youtube dan ketikkan kata kunci “Tik Tok”, maka akan muncul banyak sekali video unik yang sebagian besar di antaranya dibuat oleh anak-anak dengan rentang usia 10 – 18 tahun. Atau tengok saja explore di Instagram, pasti ada beberapa video Tik Tok yang nyasar di Explore kita.

Apakah kita harus ikut bangga dengan kreativitas para remaja yang membuat video Tik Tok?

Ini adalah pertanyaan berikutnya setelah mengetahui fenomena aplikasi Tik Tok. Beberapa video kreatif dari anak-anak memang bisa membuat kita berdecak kagum karena ide dan konten kreatifnya. Sayangnya, seperti halnya semua jenis sosial media, ada saja video-video dengan konten tak layak untuk anak maupun remaja yang hadir di Tik Tok.

Nah, karena anak kita adalah salah satu pengguna Tik Tok, mungkin saja mereka pun akan terpapar dengan konten-konten yang tidak mendidik dan bisa jadi tidak sesuai umur mereka.

Seiring dengan perkembangannya, Tik Tok ditengarai tak lagi membawa dampak positif.

Kecenderungan remaja untuk membuat konten-konten tidak senonoh mulai meningkat. Ini tentu menimbulkan pro dan kontra. Oleh karena itu, jika anak Anda sudah mulai keranjingan bermain Tik Tok. Anda patut waspada.

Apa yang harus diwaspadai dari Aplikasi Tik Tok?

1. Pengaturan Privasi

Hal pertama yang harus diwaspadai dari aplikasi ini adalah masalah pengaturan privasi. Hanya ada dua pengaturan privasi dalam Tik Tok, yaitu pribadi atau publik. Jika anak-anak memposting foto di Tik Tok, secara otomatis foto tersebut bisa diakses oleh semua pengguna Tik Tok.

Pengaturan privasi tersebut juga berlaku untuk pengaturan pesan. Jika Anda menyetelnya dengan “publik”, siapa pun bisa mengirim pesan atau mengomentari konten Anda. Hal ini tentunya tidak aman jika digunakan oleh anak-anak di bawah umur.

Lain halnya dengan aplikasi seperti Instagram atau Facebook, yang pengaturan privasinya lebih ketat. Di Instagram, jika kita mengatur “private” pada akun kita, orang yang bisa melihat status kita hanyalah akun yang sudah di-accept.

2. Penyebaran Konten Video

Setelah satu konten video diposting di Tik Tok, pengguna tidak lagi bisa mengontrol penyebaran video tersebut. Orang lain bisa mendownload kemudian menyebarkan kembali videonya. Ini adalah hal yang bisa jadi menguntungkan apalagi jika pembuat konten memang ingin videonya viral. Namun, rasanya dengan dampak viral seperti ini akan sangat tidak bijak jika sampai yang tersebar adalah konten negatif.

 

3. Akses Konten Video

Berbeda dengan Youtube yang membatasi konten-konten video berdasarkan umur, di dalam Tik Tok, siapa pun bisa mengakses video yang sudah diunggah.Dan celakanya, tidak semua konten video Tik Tok adalah video yang positif, banyak di antaranya berisi video-video yang tidak pantas ditonton anak-anak.

Bagaimana jika Anak sudah Kecanduan Bermain Tik Tok?

Belum terlambat untuk menjelaskan pada anak Anda agar membatasi bermain Tik Tok. Bagaimana pun, aplikasi ini punya dampak-dampak negatif bagi anak-anak, terlebih tentang privasinya.

Jika anak sudah terlanjur keranjingan bermain Tik Tok, sebaiknya alihkan fokusnya dengan mengikutkan anak kegiatan yang lain seperti kelas-kelas sinematografi.

Dengan mengikuti kursus sinematografi atau yang sejenis, anak akan diajari cara membuat film atau video dengan konten yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Jadi, mereka tetap bisa berkreasi sesuai dengan minat dan bakatnya.